ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Antisipasi Kenaikan Daging Ayam Pemerintah Harus Efisienkan Rantai Distribusi

Antisipasi Kenaikan Daging Ayam Pemerintah Harus Efisienkan Rantai Distribusi

Antisipasi Kenaikan Daging Ayam Pemerintah Harus Efisienkan Rantai Distribusi
Antisipasi Kenaikan Daging Ayam Pemerintah Harus Efisienkan Rantai Distribusi

Jakarta (28/8) – Anggota Komisi IV DPR RI,  Rofi Munawar dalam release

yang diterima jabarprov.go.id, Jum’at (28/8) mengatakan, rantai distribusi menjadi salah satu penyebab tingginya harga daging ayam di pasaran. Situasi ini telah menyebabkan lonjakan harga hingga empat kali lipat dari harga jual di tingkat peternak.

Menyikapi keadaan tersebut, perlu usaha serius dari Pemerintah untuk melakukan efisiensi rantai distribusi dan memperhatikan kesejahteraan peternak ayam dengan menjaga stabilitas Harga Pokok Produksi (HPP) ayam dibawah harga jual ayam hidup, sehingga peternak masih bisa mendapatkan keuntungan dari usahanya. Oleh karenanya pemerintah di desak untuk memotong rantai distribusi yang tidak efisien yang telah menyebakan mahalnya harga daging ayam.

 Pemerintah, sambung Rofi  harus segera melakukan koordinasi berkala

kepada asosiasi pedagang, asosiasi peternak, asosiasi rumah potong unggas, dan stakeholder lainnya.
Hal yang menjadi temuan Komisi IV, di Kota Bandung, sehari setelah masa mogok yang dilakukan para pedagang daging ayam sejak Kamis (20/8) lalu, harga daging ayam di pasaran masih dikategorikan tinggi. Seperti harga daging ayam di Pasar Cihaurgeulis pada kisaran Rp39.000. Meskipun ada penurunan harga Rp1000 dari harga awal sebelum demo berlangsung, pedagang ayam mengaku masih sepi pembeli.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag)

dan Kementerian Pertanian (Kementan) harus berkoordinasi untuk mensinkronkan serta mengatur tata niaga daging ayam. DPR RI melalui Komisi IV, mendukung langkah Pemerintah untuk menurunkan harga daging sapi, daging ayam, dan pangan pokok lainnya, serta menindak tegas importir atau pelaku usaha pangan yang melakukan penimbunan  daging sapi, daging ayam, dan pangan pokok lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tingginya harga daging ayam di pasaran dinilai sebagai dampak dikuranginya pasokan bibit ayam atau day old chicken (DOC) sejak awal 2015. Pemerintah mengurangi pasokan bibit ayam hingga 30 persen, belum lagi kenaikan harga pakan ayam yang disebabkan nilai tukar dollar terhadap rupiah.”Mengingat selama ini pabrik pakan ayam dimiliki oleh perusahaan asing dengan bahan baku sebagian besar perlu di impor.

Masalah dalam rantai distribusi daging ayam diduga karena adanya perilaku spekulan atau penyalahgunaan kekuatan pasar yang dilakukan pedagang perantara (kartel) dalam satu supply chain atau rantai distribusi. Hal ini terjadi, dikarenakan  struktur pasar sangat berpengaruh terhadap jumlah margin keuntungan yang ditetapkan oleh para pelaku usaha dalam satu rantai pemasaran.

Ada berapa jumlah perusahaan yang beroperasi di pasar, bagaimana barrier to entry and exit bagi perusahaan, dan karakteristik produk yang diperdagangkan sangat menentukan struktur pasar yang terbentuk. Dari struktur pasar ini, muncul pengaruh untuk mempengaruhi harga pasar dari kekuatan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam pasar tersebut.
“Secara umum pasar daging ayam terbentuk secara oligopoli, di mana perusahaan tunggal atau beberapa perusahaan dominan akan berperilaku sebagai pembentuk harga, yang memiliki keleluasaan dalam menetapkan harga dan menentukan margin seoptimal mungkin,tutur Rofi mengakhiri keterangannya.

 

Sumber :

https://oneworldherald.com/2019/05/28/study-deforestation-in-amazon-has-reached-the-worst-condition/