ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Kegagalan Proyek Pencerahan: melenyapkan kodrat hakiki manusia

Kegagalan Proyek Pencerahan: melenyapkan kodrat hakiki manusia

Kegagalan Proyek Pencerahan
Kegagalan Proyek Pencerahan

 

Tidak berhenti dengan kritik atas moralitas dan etika

dalam dunia modern, MacIntyre mencoba menganalisa penyebab dari situasi ini. Dalam After Virtue, secara terang-terangan ia menyimpulkan bahwa semua permasalahan ini berawal dari kegagalan Proyek Pencerahan. Pencerahan terjadi 300 tahun yang lalu dengan tujuan untuk membongkar belenggu-belenggu otoritarianisme dan tradisi atas nama nalar dan rasionalitas. Namun menurut MacIntyre usaha Pencerahan untuk memberikan suatu dasar rasional kepada moralitas gagal karena Pencerahan atas nama rasionalitas justru membuang apa yang menjadi dasar rasionalitas setiap ajaran moral, yaitu pandangan teleologis tentang manusia.

 

Menurut MacIntyre, dalam masa pra-Pencerahan

terdapat dua kerangka besar moralitas yang merupakan hasil perkembangan sejarah manusia: yang pertama, memuat unsur-unsur Klasik (dari filsafat Yunani) dan kedua, memuat unsur-unsur teistik (dari ajaran Kristiani). Akan tetapi baik Klasik maupun Teistik, keduanya memiliki kerangka teleologis yang sama. MacIntyre menyatakan ”Dalam kerangka teleologis terdapat tegangan dasar antara manusia-seadanya (man-as-happens-to-be) dan manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-kodrat-hakikinya (man-as-he-could-be-if-he-realised-his-essential-nature). Etika adalah ilmu yang bermaksud untuk membuat manusia mengerti bagaimana ia beralih dari keadaan pertama ke keadaan kedua”.[8] Etika dalam pandangan MacIntyre dengan demikian merupakan panduan yang akan membawa manusia kepada kodrat hakiki atau telos-nya.

 

Etika yang ditempatkan dalam kerangka teistik

apakah Yahudi, Kristiani ataupun Islam memang dipahami sebagai menjadi hukum Illahi. Walaupun unsur pewahyuan ini membedakan etika teistik dengan etika klasik Yunani, kontras antara manusia-seadanya dengan manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-kodrat-hakikinya tetap berlaku dan hukum moral Illahi tetap menjadi panduan yang mengantar manusia dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Kerangka moral dengan demikian memerlukan tiga unsur: [1] kodrat manusia mentah, [2] manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-telosnya dan [3] perintah-perintah moral yang menjadikan manusia mampu melangkah dari keadaan pertama ke yang kedua.[9]

Filsafat Pencerahan datang dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari spekulasi metafisik skolastik Abad Pertengahan dan perayaan kemenangan pendekatan rasional ilmiah. Akan tetapi penolakan sekuler terhadap teologi dan penolakan ilmiah dan filosofis terhadap Aristotelianisme, sekaligus menyingkirkan segenap paham tentang manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-telos-nya. Filsafat Pencerahan ingin membebaskan manusia untuk membentuk sendiri kodrat hakikinya dan oleh karena itu menolak segala pandangan tentang kodrat manusia yang teleologis seakan-akan manusia telah mempunyai suatu hakekat yang sejati.

 

Dalam pandangan MacIntyre

justru di sinilah letak dari kegagalan Proyek Pencerahan karena tidak menyadari bahwa konsekuensi penghapusan kodrat hakiki manusia adalah kegagalan menemukan pendasaran dari moralitas. MacIntyre menyatakan“Mengingat seluruh maksud etika – baik sebagai disiplin teoritis maupun praktis – adalah menjadikan manusia mampu untuk beralih dari keadaan sekarang ke tujuannya yang benar, penyingkiran segala paham tentang kodrat hakiki manusia dan bersama dengannya, pelepasan segala pengertian tentang suatu telos, meninggalkan sebuah kerangka moral yang terdiri atas hanya dua unsur yang masih ada [yaitu manusia-seadanya dan perintah-perintah moral], yang hubungannya satu sama lain menjadi tidak jelas”.[10]

Tanpa elemen ke-2 dari etika yaitu manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-telos-nya maka peraturan moral menjadi tidak berdasar. MacIntyre menjelaskan bahwa “tidak ada konklusi ‘harus’ dari premis-premis ‘ada’”. Artinya dari fakta manusia-seadanya kita tidak bisa menarik kesimpulan apa yang harus dilakukannya. Atau dengan kata lain, tidak mungkin sebuah konklusi dengan isi evaluatif dan moral yang substansial dapat disimpulkan dari premis-premis yang faktual. Penilaian moralitas hanya terbentuk jika ada tujuan tertentu sebagai acuan. Dari sini MacIntyre menyatakan secara gamblang bahwa “Proyek Pencerahan tidak bisa tidak gagal”.[11] Bagaimana mungkin merumuskan etika tanpa pendasaran tujuan? Tidak heran jika saat ini dunia terpecah-pecah dalam berbagai moralitas dan etika yang konflik satu sama lain, karena tidak adanya satu kodrat hakiki “manusia yang baik” yang diacu bersama. Proyek Pencerahan dengan demikian merupakan cikal-bakal lahirnya konsepsi moralitas modern yang emotivistik “Manusia yang baik (menurutku) adalah manusia yang seperti aku tuju. Moralitas yang baik (menurutku) adalah moralitas yang mendukung tujuan dan kesuksesan hidupku.”

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi