ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Kemdikbud Akan Tutup SMK yang Tidak Aktif

Kemdikbud Akan Tutup SMK yang Tidak Aktif

Kemdikbud Akan Tutup SMK yang Tidak Aktif
Kemdikbud Akan Tutup SMK yang Tidak Aktif

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Dikdasmen Kemdikbud) Hamid Muhammad mengatakan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sudah tidak menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa ditutup. Ini pernah dilakukan Kemdikbud sebelumnya 279 sekolah melalui skema soft delete data pokok pendidikan (Dapodik) yang telah dijalankan mulai tahun ini.

Pasalnya, SMK tersebut hanya tercatat untuk mendapatkan dana bantuan operasional sekolah (BOS). “Jadi bisa langsung ditutup saja,” ujarnya kepada SP, Kamis (25/4).

Untuk merevitalisasi SMK secara keseluruhan, Kemdikbud sedang melakukan peninjauan k

embali Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Permendikbud) No. 36 Tahun 2014, tentang Pedoman Pendirian, Perubahan dan Penutupan Satuan Pendidikan Dasar, Sekolah Menengah, dan SMK. Peraturan tersebut dinilai tidak memberikan sanksi tegas untuk pendirian sekolah seperti SMK yang tidak memenuhi standar.

Kendati demikian, Hamid menyebutkan, penataan kelembagaan tidak otomatis berarti sekolah yang tidak layak langsung ditutup. Langkah awal tetap akan dimulai dengan pembinaan agar sekolah yang sedang bermasalah ini dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan.

“Jadi dalam waktu tertentu sekolah tersebut tetap tidak memenuhi syarat kelayakan, maka sekolah tersebut harus memilih untuk digabung atau berubah untuk menjadi lembaga pendidikan lain seperti lembaga kursus, atau ditutup,” katanya.

Untuk perkembangan revisi Permendikbud Nomor 36, Hamid belum memberikan kepastian.

Yang pasti, ia menuturkan akan diberlakukan segera.

Berdasarkan Dapodik yang dihimpun sepanjang tahun ajaran 2018/2019, terdapat 14.219 SMK di seluruh Indonesia dengan jumlah SMK negeri hanya 3.651 sekolah dan SMK swasta sebanyak 10.568 sekolah.

Hamid menuturkan, banyaknya SMK swasta ini jika dilihat dari sisi mutu, memang tidak seimbang. Pasalnya, dari 10.568 SMK swasta, terdapat 4.000 SMK yang bermasalah. Di antaranya, karena mereka tidak memiliki fasilitas yang memadai bahkan tidak memiliki partner dari industri.

Ini terjadi karena 4.000 SMK tersebut memiliki siswa kurang dari 100 peserta. Bahkan, ada sekitar 2.000 sekolah yang siswanya kurang dari 60 peserta. Sekolah-sekolah tersebut menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan bergantung dari dana BOS.

 

Sumber :

http://slamet.blog.st3telkom.ac.id/legenda-kota-makassar/