ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Ajakan MacIntyre untuk Kembali ke Tradisi Moralitas Klasik

Ajakan MacIntyre untuk Kembali ke Tradisi Moralitas Klasik

Ajakan MacIntyre untuk Kembali ke Tradisi Moralitas Klasik
Ajakan MacIntyre untuk Kembali ke Tradisi Moralitas Klasik

Diawali dengan kritiknya mengenai kegagalan Proyek Pencerahan

MacIntyre lalu mengajak manusia untuk kembali ke tradisi moralitas klasik yaitu etika teleologis dari Aristoteles. Etika ini menurut MacIntyre memenuhi prasyarat 3 unsur kerangka moral, karena adanya satu konsepsi sentral mengenai “menjadi manusia yang baik” atau“manusia-yang-mungkin-seandainya-ia-merealisasikan-telos-nya”. MacIntyre juga mengangkat kembali konsepsi keutamaan Aristoteles, di mana keutamaan didefinisikan sebagai sifat-sifat etis yang perlu dimiliki manusia untuk mencapai telos-nya. Dengan kata lain, untuk mencapai telos, manusia harus menjadi manusia utama.

 

Tetapi apakah manusia utama itu?

MacIntyre menjawab bahwa hal ini secara hakiki bergantung dari pandangan dunia, keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai komunitas yang bersangkutan. Ajaran-ajaran moral milik komunitas akan menunjukkan jalan bagaimana seseorang dapat menjadi manusia yang utama.[12] MacIntyre mengajukan tiga unsur yang perlu dibangun dalam komunitas agar mampu menunjukkan jalan menuju manusia utama: pertama, kegiatan bermakna, kedua, kesatuan naratif kehidupan seseorang dan ketiga, tradisi moral.[13]

 

Kegiatan Bermakna

Sebagaimana Aristoteles, MacIntyre menyatakan bahwa keutamaan tidak muncul begitu saja dalam diri manusia, melainkan diperoleh melalui latihan yang terus-menerus dalam apa yang disebutnya sebagai practice atau kegiatan bermakna[14].

MacIntyre mencontohkan, seorang anak kecil yang dilatih bermain catur. Untuk membuatnya tertarik, mula-mula anak kecil ini diiming-imingi dengan permen. Setiap kali menang ia mendapatkan satu permen dan agar mengikuti aturan permainan, satu permen tambahan jika ia tidak berbuat curang. Pertama-tama tentunya anak kecil tersebut senang karena ia mendapatkan permen tapi lama kelamaan ia menemukan kesenangan tersendiri dalam permainan catur. Bukan lagi permen yang ia tuju melainkan kesenangan tersebut. Sedikit demi sedikit si anak pun membangun keahliannya bermain catur.

Dari contoh ini, MacIntyre menunjukkan adanya 2 jenis kebaikan dalam kegiatan bermakna: kebaikan eksternal (dalam kasus bermain catur berupa permen tetapi dalam kehidupan nyata bisa berupa uang, kemasyuran atau kekuasaan) dan kebaikan internal (kebaikan yang secara inheren terkandung dalam praktek kegiatan itu sendiri).[15] Kebaikan eksternal dapat datang melalui berbagai cara, permen bisa diperoleh dengan bermain catur dengan baik atau sebaliknya, dengan berbuat curang. Sebaliknya kebaikan internal hanya dapat dinikmati jika seseorang menguasai permainan catur dengan baik, mengerti aturan-aturannya, memahami dan mencapai standard of excellence serta menikmati interaksi dengan lawan caturnya. Dengan kata lain, kebaikan internal dalam permainan catur hanya dapat dicapai dengan terbangunnya keutamaan-keutamaan bermain catur.

Demikian, hal yang sama berlaku dalam setiap kegiatan bermakna. Manusia utama hanya lahir jika kegiatan bermakna ditujukan untuk mencapai kebaikan internal, bukan hanya kebaikan eksternal. Sayangnya praktek kegiatan bermakna dalam kegiatan politik, ekonomi ataupun sosial saat ini justru banyak difokuskan pada kebaikan eksternal. Hal ini tentunya akan mengakibatkan ada yang menang dan ada yang kalah, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan ketimpangan. Celakanya lagi, demi pencapaian kebaikan eksternal, eksploitasi dan kecurangan menjadi praktek umum. Alih-alih kegiatan bermakna sebagai wadah pembentuk manusia utama, ia berubah menjadi wadah eksploitasi manusia lain.

Kesatuan Naratif Kehidupan Seseorang

Mengajukan pertanyaan mengenai apa itu “manusia yang baik” sebenarnya merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan itu sendiri. Bagi MacIntyre, pertanyaan mendasar mengenai apa itu “manusia yang baik” sekaligus merupakan pernyataan telos bagi manusia. Telos yang kita pahami sekarang bisa jadi belum merupakan telos final, akan tetapi pencarian telos final ini tentunya memerlukan konsepsi awal yang menjadi titik mulai pencarian. Telos dirumuskan Aristoteles sebagai kebahagiaan atau dirumuskan Aquinas sebagai visio beatifica, pandangan yang membahagiakan. Bukan berarti bahwa telos yang dirumuskan sudah sempurna kebenarannya akan tetapi paling tidak kita memiliki dasar bagi pencarian telos yang final.

Hidup seseorang dengan demikian, merupakan pencarian dari apa itu “manusia yang baik” atau dikatakan oleh MacIntyre“hidup yang baik bagi seorang manusia adalah hidup yang ditujukan untuk mencari hidup yang baik bagi manusia, dan keutamaan yang diperlukan dalam pencarian ini adalah yang memungkinkan kita untuk memahami apa yang lebih dan apa lagi yang ada dalam hidup yang baik”.[16] Dengan pernyataan ini MacIntyre seperti ingin menyatakan bahwa hidup yang baik bagi manusia merupakan pencarian naratif dari telos-nya atau menurut istilah MacIntyre, kesatuan naratif kehidupan seseorang. Keutamaan kemudian dihubungkan oleh MacIntyre sebagai suatu kemampuan yang memungkinkan terangkainya narasi pencarian tersebut, keutamaan memungkinkan manusia memahami telos-nya dan menghilangkan hambatan dan halangan dalam pencarian naratif telos-nya.

Baca Juga :