ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

MacIntyre dan Ajakannya untuk Kembali ke Etika Keutamaan

MacIntyre dan Ajakannya untuk Kembali ke Etika Keutamaan

MacIntyre dan Ajakannya untuk Kembali ke Etika Keutamaan
MacIntyre dan Ajakannya untuk Kembali ke Etika Keutamaan

 

Saya masih ingat 30 tahun yang lalu saat Ibu menasihati

“serakah itu tidak baik” ketika saya merengek untuk membeli 2 kantong permen sekaligus. Kata Ibu, kita harus belajar menahan diri untuk tidak menginginkan terlalu banyak dan mensyukuri apa yang kita miliki.

Akan tetapi 15 tahun kemudian, ketika saya mulai bekerja di sebuah perusahaan asing, dalam suatu diskusi, atasan mengomentari usulan target profit saya yang menurutnya terlalu rendah “your target is too low … you need to be more aggressive, to push further, to want more, to demand more, to take more” dengan kata lain seperti yang diucapkan Gordon Gekko dalam film Wallstreet: ”greed is good”. Dan mulailah saya mengalami konflik dan kebingungan nilai. Setelah bertahun-tahun belajar menahan diri untuk tidak mengambil terlalu banyak, tiba-tiba saya dikatakan berdosa jika menginginkan secukupnya.

 

Apa yang terjadi? Apakah nilai-nilai dan moralitas berubah?

Apakah ajaran Ibu sudah kuno dan tidak berlaku dalam dunia yang kompetitif? Atau memang ada perbedaan mendasar antara Ibu, manusia kuno yang statis, dan Mr. Boss, manusia modern yang dinamis? Apakah moralitas dan nilai-nilai perlu saya sesuaikan dengan dunia di mana saya hidup? Apakah saya harus mengikuti tradisi kuno atau saya ciptakan sendiri saja nilai-nilai modern yang sesuai zaman ? Apa yang saya harus ajarkan pada anak-anak saya sekarang? “Greed is bad” atau “greed is good”? Atau mengikuti anjuran Sartre, biarkan saja mereka menciptakan nilai-nilai mereka sendiri?

 

Permasalahan

Seperti kasus yang saya alami sendiri di atas, seringkali dalam dunia modern yang terfragmentasi manusia menjumpai konflik nilai dan moralitas. Sudah lumrah, jika sekelompok orang menganut moralitas tertentu yang berbeda dengan kelompok lainnya. Para pengusaha akan menganut nilai-nilai yang berbeda dengan guru atau pekerja sosial. Orang Indonesia tentunya juga berbeda dengan orang Barat. Kaum beragama apalagi, pasti memiliki moralitas dan nilai-nilai yang berbeda dengan para atheis. Secara pragmatis, manusia modern (atau yang menganggap dirinya modern) termasuk saya sendiri, jika menjumpai pertanyaan tentang konflik moralitas akan menjawab “Setiap orang menganut moralitas dan nilai yang berbeda. Hal ini merupakan urusan masing-masing, tidak perlu diperbandingkan apalagi diperdebatkan kebenarannya. Sepanjang kita tidak saling mengganggu, biarkan saja setiap orang melakukan apa yang dipercayainya”

 

Tapi benarkah demikian?

Apakah memang moralitas berbeda dari satu orang ke orang lainnya? Dan karenanya masing-masing orang menerapkan etika yang berbeda? Apakah memang tidak ada satu acuan moralitas dan etika yang bisa kita pegang sebagai panduan hidup? Tidak adakah satu kebenaran universal yang bisa diperjuangkan bersama? Sebagai manusia modern bagaimana kita harus menyikapi situasi ini?

Metode

Menjawab permasalahan di atas, penulis menemukan pemikiran yang menarik dari Alisdair MacIntyre, seorang filsuf postmodernisme yang banyak mengkritisi filsafat modern, khususnya etika dan politik, yang dianggapnya gagal membawa manusia ke arah hidup yang lebih baik.

Pemikiran etika MacIntyre ini berhasil mengejutkan pada filsuf modern. Setelah 300 tahun Era Pencerahan berbangga dengan proyek utamanya untuk mengangkat humanitas setinggi-tingginya dengan membongkar otoritaniarisme dan tradisi atas nama nalar dan rasionalitas, MacIntyre dengan gamblang menyatakan bahwa “Proyek Pencerahan telah gagal”. Ia beranggapan bahwa kerusakan dan ketimpangan yang terjadi saat ini berawal dari pandangan dunia yang salah yang pada akhirnya melahirkan etika yang salah. Menurutnya, pandangan yang salah ini dimulai dengan apa yang dikenal sebagai Proyek Pencerahan. Oleh karena itu, MacIntyre mengajak kita untuk kembali pada konsepsi etika pra-Pencerahan, terutama etika Aristoteles. Ia percaya bahwa konsepsi moralitas klasik ini lebih unggul dan fundamental dibandingkan moralitas modern.[1]

Dalam makalah singkat ini, saya akan menelurusi pemikiran etika MacIntyre yang sebagian besar mengacu pada buku Etika Abad Kedua Puluh karya Prof. Franz Magnis-Suseno dan After Virtue yang disarikan oleh Kelvin Knight dalam The MacIntyre Reader. Dalam bagian akhir juga akan dibandingkan etika MacIntyre dengan dua sistem filsafat etika yang paling berpengaruh, yaitu etika teleologis Aristoteles, yang dalam kasus ini memang mendasari pemikiran MacIntyre, dan etika deontologis Kant, yang justru berlawanan dengan etika Aristoteles karena tidak mengaitkan kewajiban dengan telos.

Kritik MacIntyre terhadap Proyek Pencerahan
Riwayat Singkat Alisdair MacIntyre

Alasdair MacIntyre lahir pada tahun 1929 di Glasgow, Scotland. Ia mendapatkan gelar sarjana dari Universitas of Manchester dan University College at Oxford, kemudian mengajar di beberapa universitas di Inggris sebelum pindah ke Amerika Serikat tahun 1970. Di Amerika Serikat ia juga mengajar di beberapa universitas sampai akhirnya menjadi guru besar di Notre Dame University.

Publikasinya yang pertama “Analogy in Metaphysics” muncul di tahun 1950 ketika ia berumur 21 tahun. Lalu menyusul buku yang pertama tahun 1953, Marxism: An Interpretation. Semenjak itu, ia menulis dan mengedit hampir 20 buku, ratusan artikel dan review buku yang mencakup teologi, Marxisme, rasionalitas, metafisika, sejarah filsafat dan etika. Karya yang merupakan tonggak filsafatnya adalah After Virtue (1981) yang berisi argumen mengenai kegagalan filsafat dan politik modern dan bagaimana kegagalan ini dapat diperbaiki dengan kembali kepada filsafat klasik Aristoteles. Karya-karya penting selanjutnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari After Virtue adalah Whose Justice? Which Rationality? (1988), Three Rival Versions of Moral Enquiry (1990) dan Dependent Rational Animals: Why Human Being Need the Vitues (1999).

Kejatuhan Filsafat Moral Modern ke dalam Emotivisme

MacIntyre mengawali After Virtue dengan mengajak pembaca untuk membayangkan suatu kejadian di mana dunia mengalami kehancuran hebat karena praktek ilmu pengetahuan. Kemarahan akhirnya mendorong masyarakat menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Buku-buku, artikel ilmiah, basis data dan laboratorium dihancurkan, bahkan ilmuwan pun dibunuh. Masyarakat baru kemudian memutuskan untuk merestorasi ilmu pengetahuan yang tentunya memerlukan dasar-dasar pengetahuan sebagai fondasi pengetahuan baru. Akan tetapi, karena semua yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan telah dimusnahkan maka pengetahuan baru harus disusun kembali dengan pecahan-pecahan ilmu pengetahuan yang tersisa: memori, sobekan-sobekan buku, catatan ilmiah yang tak terhapus dan sebagainya. Dan apa yang dihasilkan dari sini? Bukan ilmu pengetahuan baru yang koheren akan tetapi pecahan-pecahan yang membingungkan, penuh inkonsistensi dan kesalahan-kesalahan.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia