ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk karena kelahiran dan urbanisasi, kebutuhan perumahan juga semakin meningkat. Perumahan bukan lagi hanya sekedar sebagai rumah dengan konstruksi bangunan yang teratur, tapi dapat juga diartikan sebagai sekelompok rumah yang mempunyai fungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana.
Menurut sumber DPP REI Jawa Timur, kebutuhan perumahan di Indonesia sebagai pertambahan penduduk diperkirakan akan mencapai 700.000 unit setiap tahunnya, atau 120.000 pertahun di Jawa Timur, atau 12.000 unit pertahunnya hanya di kota Surabaya. (CIC, 1997:73).

Kota Surabaya mulai terasa kepadatannya dengan perumahan – perumahan baru, namun tidak diimbangi penambahan lahan pemakaman. Hal ini mulai menjadi masalah serius. Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro menyatakan bahwa sampah dan kuburan adalah masalah besar (Suara Indonesia, 13 Oktober 2000:1). Warga Surabaya yang meninggal dunia kini tidak bisa dengan mudah diimakamkan di kotanya sendiri. Sembilan dari sepuluh lokasi pemakaman seluas 180 hektar yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya, penuh dan tertutup, karena yang terisi sudah di atas 92 persen (Kompas, 9 November 2000:20).

Gejala tidak sehat juga sudah terasa di beberapa pemakaman, dengan adanya penumpukan beberapa jenazah sekaligus dalam satu liang lahat.
Gejala tidak sehat juga terasa lewat setiap penolakan warga di sekitar lahan pemakaman, jika ada warga dari luar wilayah mereka yang ingin menguburkan anggota keluarganya di makam tersebut (Kompas, 10 November 2000:18). Masyarakat di sekitar perumahan tidak menerima pendatang bani, sehingga harus dikuburkan di tempat asal dan bahkan sering dikuburkan di makam Pemda yang diperuntukkan bagi orang yang tidak dikenal (Surabaya Post, 8 September 2000 dan Radar Surabaya, 14 Mei 2001:2).
Menurut Murtadji, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Seksi pemakaman Surabaya, menyatakan pengembang tidak akan mau menyediakan makan sekalipun ada peraturan pmerintah yang menyatakan hal itu. Pengembang mungkin akan mau menyediakan makan di perumahan kalau warganya menuntut atau berunjuk rasa. Hal ini terbukti pada 10 Desember 2000 warga perumahan Lembah Harapan dan Pinus Asri di Kelurahan Lidah Wetan mematok dan memagarinya dengan kawat berduri tanah milik pengembang seluas 4.000 meter persegi. Menurut Abdul Hamid selaku ketua RW. V Lidah, warga melakukan hal tersebut karena sudah 10 tahun pengembang belum juga menyediakan lahan makam. Akibatnya, setiap ada warga perumahan yang meninggal dunia, mereka kesulitan mencari lahan pemakaman. Karena penduduk setempat menolak jenazah penghuni perumahan dimakamkan di makam kampung. Akhirnya pada 12 Desember 2000, pengembang Lembah Harapan dan Pinus Asri terpaksa menyediakan lahan seluas 1.000 meter persegi untuk tanah makam. (Kompas, 13 desember 2000: 18; dan Surya 13 Desember 2000:2).
Menurut Ruh Rudiansyah, sekretaris DPD REI Jatim, tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas penyediaan lahan pemakaman, apakah pemerintah daerah, pengembang, ataukah masyarakat penghuni kawasan perumahan itu sendiri. Hal ini menyebabkan persoalan makam ini rumit. Karena ternyata di dalamnya bukan hanya persoalan penyediaan lahan pemakaman saja, teta[pi ada faktor – faktor lain yang mempengaruhinya (Surya, 23 September 2000).
Masalah makam mendapatkan perhatian khusus dari mantan Presiden republik Indonesia Alm. Abdurrahman Wahid.
B. Rumusan Masalah
Apakah terdapat kebutuhan makam bagi penghuni perumahan di wilayah Surabaya Selatan terhadap lahan pemakaman di kawasan perumahanya?
Faktor – faktor apa saja yang menyebabkan pernghuni perumahan di wilayah Surabaya Selatan membutuhkan lahan pemakaman di kawasan perumahannya?
Karakteristik makam seperti apa yang diinginkan oleh para penghuni perumahan di wilayah Surabaya Selatan?