ksnr.us

Ruang Belajar Teknologi Terkini Dan Terpopuler

Kenali ciri-ciri PTSD sejak dini

Kenali ciri-ciri PTSD sejak dini

PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder adalahgangguan kesehatan mental dampak trauma yang dialami, laksana kecelakaan, kebakaran, bencana alam, maupun pelecehan dan kekerasan. PTSD dapat dirasakan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Namun, untuk anak-anak terdapat fenomena yang sedikit bertolak belakang di samping ketakutan dan kegelisahan berlebihan. Setelah trauma terjadi, anak-anak bakal merasa gelisah, bahkan laksana orang bingung. Tidak jarang, mengompol menjadi pilihan saat si kecil tidak dapat lagi menanggulangi rasa khawatir yang terus menyerang sesudah trauma terjadi.

Mereka ulang kejadian melewati permainan

Kenangan yang terus tergambar di alam bawah sadar, membawa tangan anak guna mereka ulang kejadian penyebab trauma dalam format permainan secara tidak sadar. Seperti, anak merasakan trauma dampak kecelakaan mobil yang dirasakan orang tua. Maka, tanpa sadar anak mereka ulang kejadian dengan memainkan dua mobil-mobilan yang mengalami kemalangan beserta jeritan yang dia dengar. Kemudian, saat anak mulai menyadari apa yang sudah dia lakukan, dia dapat menangis sampai histeris, atau diam dengan tatapan kosong dan memilih menyendiri. Kemudian, kejadian itu akan terus berulang selama kenangan mengenai kejadian traumatis masih ada.

Susah istirahat dan memiliki mimpi buruk

Perasaan gelisah dan fobia sesuatu yang buruk bakal terjadi padanya saat tidur, menciptakan anak merasakan gangguan insomnia. Terlebih saat memori traumatis itu menjelma menjadi suatu mimpi buruk, anak bakal semakin fobia untuk sekadar memejamkan mata. Bila tidak segera ditangani, kesehatan si kecil yang bakal terganggu sebab tidak pernah diistirahatkan sebagaimana harusnya.

Kurang responsif dan menghindari penyebab trauma

Secara emosional, anak menjadi tidak cukup responsif. Mereka akan unik diri dari lingkungan dan memiliki jati diri yang anti sosial. Bahkan, menjauh dari orang-orang yang bisa mengingatkan dengan trauma yang dialami. Anak-anak pun bakal lebih memilih pindah ke lokasi baru yang asing, daripada mesti bertahan di lokasi yang memicu memori akan kejadian penyebab trauma dan bertemu orang-orang yang tercebur di dalamnya.

Perubahan emosi menjadi destruktif

Emosi si kecil pun akan berubah secara drastis. Dari yang seringkali ceria dan gampang bergaul dengan orang, termasuk rekan sebaya, maka sesudah trauma terjadi, reaksi yang dikeluarkan bisa berbeda. Anak menjadi gampang marah dan tersinggung dampak sesuatu, sekalipun urusan sepele yang tidak bersangkutan dengan trauma.

Agresif, menampakkan sikap bermusuhan pada seluruh orang serta sikap destruktif pada diri sendiri pun dapat terjadi saat PTSD telah naik ke tingkat berat. Bahkan, tidak tidak banyak anak-anak yang merasakan PTSD bisa menyakiti diri mereka sendiri di ketika sendiri, melulu untuk menghilangkan rasa sakit dampak trauma. Umumnya perilaku ini terjadi pada anak yang merasakan kekerasan atau pelecehan seksual sewaktu kecil.

Sulit disuruh berkomunikasi

Lantaran anak-anak penderita PTSD unik diri dari lingkungan, maka komunikasi susah untuk dilakukan. Terutama untuk anak yang baru saja mengalaminya. Mereka ingin membangun benteng guna tidak tidak mempedulikan orang beda mengusik keadaannya, sekalipun tengah menyendiri dalam kekosongan. Bahkan, rasa percaya anak pada orang lain bakal menurun dan sulit untuk di bina kembali. Apalagi andai membuatnya haus terbuka. Dibutuhkan usaha keras untuk dapat membuat anak yang merasakan PTSD inginkan berbagi cerita.

Sumber : http://domaindirectory.com/servicepage/?domain=www.pelajaran.co.id/